Senin, 12 Januari 2015

makalah ilmu kalam



Nama:khufyah Robe'nur
 NPM : 13103244
STAIN JURAISIWO METRO

BAB II
PEMBAHASAN

1)          PENGERTIAN ILMU AKHLAK
At-tahawani (w.abad II H.), penyusun kasysyaf ishthilahat al-Funun mendefinisikan ilmu akhlah yang di sebutnya dengan ilmu-ilmu perilaku (ulum as-suluk )sebagai “pengetahuan tentang apa yang baik dan tidak baik.[1]
            Dua cara yang dapat digunakan untuk memahami ilmu akhlak yaitu: pendekatan liguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologik (peristilahan)
Segi kebahasaan,akhlak berasal dari bahasa arabyaitu aqlaka,yang berarti as-sajiyah (perangai) ath-thabi”ah (kelakuan,watakdasar)al-adat (kebiasaan,kezalimanal-ma”ruah(peradaban yang baik)dan al-din (agama). Kata akhlak jamak dari katakhuluq ataukhulukun.

Sedangkan untuk merujuk arti akhlak ini dapat di ambil beberapa pendapat
para imam,sebagai berikut:
“sifat yang tertanam dalam jiwayang mendorongnya untuk melakukanperbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
ImamGazhali berpendapat :
“sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatandengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
Secara subtansi definisi akhlak tersebut saling melengkapi sebagai berikut :
Pertama perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanamkuat dalam jiwa seseorang,sehingga telah menjadi kepribadiannya. Kedua,perbuatan akhlak adalah perbuatan yang di lakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran
Ketiga,bahwa perbuatanaklhlak adalah perbuatan yang timbuldari dalam diri orang yang mengerjakannya,tanpa ada paksaan dan tekanan dari luar.
Keempat, bahwa perbuatan akhlakadalah perbuatan yang di lakukandengan sesungguhnya,bukan main-main atau bersandiwara.
Kelima,sejalan dengan cirri yang keempatperbuatan akhlak adalahperbuatan yang di lakukan karena ikhlas semata-mata karena allah, bukan karena ingin di puji orang.[2]

Dalam mu’jam al Wasith di sbutkan bahwa :

Artinya :“ilmu yang objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai
yang berkaitan dengan perbuatan manusiayang dapat di sifatkan yang baik atau buruk”.
B.     Ruang lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak

            Pokok-pokok yang di bahas dalam ilmu akhlak adalah intinya perbuatan manusia. Perbuatan tersebut di tentukan kriterianya apakah baik atau buruk
Manusia dibedakan tingkah lakunya dengan hewan pada orientasi dibalik tingkah laku. Jika ada seekor kuda tertawa-jika ringkikannya dianggap sebagai ketawa-maka tidak ada enilaian atas tingkah laku kuda itu, mengapa tertawa dan kepada siapa tertawa itu di tunjukan. Atau seekor kucing menerkam burung kesayangan tuannya yang baru di beli denganharga mahal, maka tidak ada analisis terhadap tingkah laku kucing itu terhadap tuanya. 
Ciri-ciri tingkah lau manusia yang membedakannya dengan mahluk lainnya
1.      Memiliki kepekaan sosial. Artinya manusia mampu menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan dan keinginan orang lain.
2.      Memiliki kelangsungan. Tingkah laku atau perbuatan seseorang tidak spontan tetapi ada hubungan antara perbuatan satu dengan yang lainnya.
3.      Memiliki orientasi pada tugas. Tiap-tiap tingkah laku manusia selalu mengarah kepada suatu tugas tertentu, bahkan seseorang dengan sengaja pergi tidur malam ternyata memiliki orientasi kepada tugas yang akan di kerjakan kepada esok harinya.
Ahmad Amin mengatakan :”bahwa objek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut di tentukan baik atau buruk”. Muhammad Ghazhali mengatakan bahwa kawasan pembahasan ilmuakhlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
A.   Ruang Lingkup Akhlak dan Tasawwuf
1.    Ruang Lingkup Akhlak
Objek pembahasan ilmu akhlak adalahperbuatan manusia untuk selanjutnya diberikan penilain apakan baik atau buruk, dan mempunyai ciri-ciri perbuatan yang dilakukan atas  kehendak dan kemauan, telah dilakukan secara kontinyu sehingga menjadi tradisi dalam kehidupannya.
Dr. Abdullah dalam buku Dustur al-Akhlaq fi al-Islam, membagi ruang lingkup akhlaq kedalam lima macam aspek kehidupan, yaitu:
a.    Akhlak perorangan الأخلا ق الفرد ية
Akhlak ini dibagi menjadi :
1)    Semua hal yang diperintahkan (al-awamir).
2)    Segala yang dilarang ( al-nawahi).
3)    Hal-hal yang diperbolehkan ( al-mubahat).
4)    Akhlak dalam keadaan darurat (al-mukhalafah bi al-idhthirar).
b.    Akhlak keluarga الأخلا ق الأ سرية
Akhlak ini juga terbagi menjadi :
1)    Kewajiban timbal balik orang tua dan anak (wajibat nahwa ushul wa al-furu).
2)    Kewajiban suami & isteri ( wajibat baina al-azwaj).
3)    Kewajiban terhadap kerabat dekat (wajibat nahwa al-aqarib).
c.     Akhlak bermasyarakat الأخلا ق الإجتماعية
Akhlak ini meliputi :
a)    Hal-hal yang dilarang (al-makhdzurat).
b)    Hal-hal yang diperintahkan (al-awamir).
c)     Kaidah-kaidah adab (qawa’id al-adab).
d)    Akhlak bernegaraالأخلاق الد و لة
Akhlak ini meliputi :
1)    Hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-‘alaqah baina al-rais wa al-sya’b).
2)    Hubungan luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
d.    Akhlak beragama الأخلا ق الد ينية
Akhlak ini meliputi kewajiban terhadap Allah swt.
Ruang lingkup di atas dipandang sangat luas karena mencakup semua aspek kehidupan. Secara vertikal hubungan dengan sang Haliq dan secara horizontal dengan sesama manusia.
Jika ruang lingkup akhlak tersebut dipersempit tetapi memiliki cakupan yang menyeluruh maka akhlak tersebut dapat dibagi menjadi :
a.    Akhlak (tata krama) kepada Allah swt.
b.    Akhlak kepada Rasul Allah saw.
c.     Akhlak untuk diri pribadi.
d.    Akhlak dalam keluarga.
e.    Akhlak dalam masyarakat.
f.     Ahlak bernegara.

2.    Ruang Lingkup Tasawwuf
Tasawuf adalah nama lain dari “Mistisisme dalam islam”. Di kalangan orientalis barat dikenal dengan sebutan “Sufisme”. Kata “Sufisme” merupakan istilah khusus mistisisme islam. Sehingga kata “sufisme” tidak ada pada mistisisme agama-agama lain.
Tasawuf bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat Tuhan. Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhan. Hal ini melalui cara bahwa manusia perlu mengasingkan diri. Keberadaannya yang dekat dengan Tuhan akan berbentuk “Ijtihad” (bersatu) dengan Tuhan. Demikian ini menjadi inti persoalan “Sofisme” baik pada agama islam maupun di luarnya.
Dengan pemikiran di atas, dapat dipahami bahwa “tasawuf/mistisisme islam” adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu cara, bagaimana seseorang dapat mudah berada di hadirat Allah SWT (Tuhan). Maka gerakan “kejiwaan” penuh dirasakan guna memikirkan betul suatu hakikat kontak hubung yang mampu menelaah informasi dari Tuhannya.
Tasawuf atau mistisisme dalam islam beresensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk hidup “kezuhudan” (menjauhi kemewahan duniawi). Tujuan tasawuf untuk bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan maksud ada perasaan benar-benar berada di hadirat Tuhan. Para sufi beranggapan bahwa ibadah yang diselenggarakan dengan cara formal belum dianggap memuaskan karena belum memenuhi kebutuhan spiritual kaum sufi.
Dengan demikian, maka tampaklah jelas bahwa ruang lingkup ilmu tasawuf itu adalah hal-hal yang berkenaan dengan upaya-upaya/cara-cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus secara langsung dari Tuhan

 C . Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak
                 Mustafa Zahri, mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu adalah untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehinggahati menjadi suci dan bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima nur (cahaya)Tuhan.
Seseorang yang mempelajari ilmu ini akan memiliki pengetahuan tentang kriteria perbuatan baik dan buruk, dan selanjutnya ia akan banyak mengetahui perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk.
Ilmua akhlak atau akhlak yang mulia juga berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia disegala bidang. Seseorang yang memiliki IPTEK yang maju disertai akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuaan yang Ia miliki itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan hidup manusia. Sebaliknya, orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi modern, memiliki pangkat, harta, kekuasaan, namun tidak disertai dengan akhlak yang mulia, maka semuanya itu akan disalah gunakan yang akibatnya akan menimbulkan bencana dimuka bumi.[3]

2)          ILMU AKHLAK DI LUAR AGAMA ISLAM

1.      Akhlak Pada Masa Yunani

            Dasar yang di gunakan para pemikir yunani dalam mengukur ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia atau pemikiran tentang manusia dan bersifat filosofis yaitu filsafat yang bertumpu pada kajian secara mendalamterhadap potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia atau bersifat antroposentris dan mengesankan bahwa akhlak adalah sesuatu yang fitri, yangaka nada bersamaan dengan adanya manusia dan hasil yang di dapatkan berdasar pada logika mumi.

            Filosofis Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399SM).
Kemudian di ikuti oleh pengikutnya adalahCynic dan Cyrenic. Kedua golongan tersebut sama-sama berbicara tentangperbuatan baik,utama dan mulia.
            Setelah Plato hadir Aristoteles (394-322SM). Aristoteles berpendapat bahwa “tujuan akhir yang di kehendaki manusiadari apa yang di lakukannyaadalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan mempergunakan akal sebaik-baiknya.

            2. Akhlak Pada Masa Romawi
  Ajaran akhlak yang terlahir saat ini (abad pertengahan) adalah ajaran akhlak yang di bangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan Nasrani di antara mereka yang terkenal adalah Abelard,Perancis (1079-1142) dan ThomasAquinas,Italy (1226-1274).

3)               Akhlak Pada Agama Islam

            Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada tuhan dan akal. Agama islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta,pemelihara,pemberi rahmat,pelindung terhadap apa yang ada di di dunia ini. Selain itu,agama islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntut umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Hukum-hukum islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah,pokok-pokok akhlak dan perbuatan yang baik.


            Sangatlah jelas bahwa dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mengndung pokok-pokok akidah keagamaan. Keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip dan tata nilai perbuatan manusia. Mengenai pembinaan akhlak dapat di jelaskan pendapat Ath-Thabatabi sebagai berikut:

Pertama,menurut petunjuk al-Quran dalam hidupnya manusia hanya menuju kebahagiaan,ketenangan,dan pencapaian cita-cita.
Kedua,perbuatan-perbuatan yang di lakukan manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hokum tertentu.
Ketiga,jalan hidup terbaikdan terkuat manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah,bukan berdasarkan emosi dan dorongan hawa nafsu.[4]






4)          Hubungan Ilmu Akhlaq dengan Ilmu-ilmu Lainnya

1.      Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu Tauhid

Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu Tauhid dapai dilhat dari analis berikut ini diantaranya :
a.       Dilihat dari segi obyek pembahasannya yaitu menguraikan masalah Tuhan baik dari segi zat,sifat dan perbuatannya, dengan demikian Ilmu Tauhid akan mengarahkan perbuatan manusia menjadi ikhlas, dan keihlasan itu merupakan salah satu akhlak mulia.
b.      Dilihat dari fungsinya, ilmu Tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya saja, tetapi yang terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan menyontoh terhadap subyek yang terdapat dalam rukun iman itu. Dengan demikian beriman kepada rukun iman yang enam itu akan memberi pengaruh terhadap pembentukan akhlak mulia.
            Jadi jelas bahwa ilmu tauhid sangat erat kaitannya dengan pembinaan akhlak yang mulia. Dengan demikian dalam rangka pengembangan Ilmu akhlak, bahan-bahannya dapat digali dari ajaran tauhid dan keimanan tersebut.

2.      Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf

Sebagaimana diketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah amat menonjol, karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, haji, zikir, dann lain sebagianya, yang semuanya itu dilakukan dalam rangka mendekatkatkan diri kepada Allah, ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak.
            Dalam hubungan ini Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, bahwa ibadah dalam islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-qur’an dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, yaitu orang yang berbuat baik dan jauh dari yang tidak baik. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahimunkar, mengajakan orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak mulia. Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, kaum sufilah, terutama yang pelaksanaan ibadahnya membawa kepada paembinaan akhlak mulia dalam diri mereka.  

3.            Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu jiwa ( ilmu-nafs )

Ilmu jiwa suatu ilmu yang menyelidiki bekas-bekas jiwa seseorang seperti: pengetahuan, perasaan dan kemauannya, dan dalil bekas dan akibatnya mengambil faidah dari padanya.
Dengan lain perkataan, ilmu jiwa sasarannya meneliti peranan yang dimainkan dalam perilaku manusia. Karenanya dia meneliti tentang suara hati ( dhamir ), Kemauan ( iradah ), daya ingatan, hafalan, dan pengertian, sangkaan yang ringan, ( waham ) dan kecenderungan-kecenderungan( awathif ) manusia.
Itu semua menjadi lapangan kerja jiwa, yang menggerakan manusia untuk berkata dan berbuat. Oleh karena itu ilmu jiwa merupakan muqaddimah yang pokok sebelum mengadakan kajian ilmu akhlak. Dikatakan oleh Prof. ahmad Luthfi”, tanpa dibantu oleh jiwa, orang tidak akan dapat menjabarkan dengan baik tugas ilmu akhlaq”. 

4.            Hubungan ilmu Akhlak dengan logika ( ilmu manthiq )

Ilmu manthiq ( logic ) aadalah pengetahuan yang menggariskan qaidah-qaidah dan umdang-undang berpikir, sehingga terpelihara manusia dalam berfikir. Jelasnya ilmu manthiq itu untuk membersikan jiwa dan memperhalusnya supaya dapat berfikir secara baik, mendidik pikiran dan menjaganya agar terhindar dari kekeliruan dalam membuat suatu hukum yang didasarkan kepada pikiran.
Kalau dipandang ilmu manthiq sebagai alat penimbang mengotrol dan neneriksa sesuatu yang berasal dari pikiran, maka dia kuat sekali ikatannya dengan ilmu akhlak dari dua segi:
A.    Ilmu manthik dan ilmu akhlak, masing-masing bertugas sebagai penimbang sesuatu. Kalau ilmu akhlak merumuskan aturan-aturan di mana manusia harus berprilaku sesuai dengan aturan itu, maka ilmu manthiq merumuskan aturan-aturan dimana manusia harus berpikir sesuai dengan aturan yang telah dirumuskan itu.
B.     Ilmu manthiq dan ilmu akhlak keduanya membahas dan meneliti manusia dari segi yang bersifat kejiwaan, dengan catatan, ilmu akhlak menyorot manusia dari segi tingkah lakunya sedang ilmu manthiq menyorot dari segi hasil pikirannya.
Oleh karena itu ilmu manthiq sebagai kunci untuk mengerti filsafat, dalam pengertian, orang yang tidak memahami ilmu manthiq tidak akan bisa memahami filsafat. Ilmu akhlak disebut juga dengan filsafat akhlak, maka orang tidak akan mengerti filsafat akhlak bila tidak mengerti manthiq. Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa terarah dan baik atau tidak sesuai prilaku sangat tergantung dan dipengaruhi kepada baik tidaknya dalam berfikir.

4.      Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu aestetika ( ilmu jamal )
Ilmu Aestetika, adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang manusia dari aspek kelazatan-kelazatan yang ditimbulkan oleh sesuatu pemandangan yang indah dalam diri manusia
Kebanyakan ahli ilmu mengatakan, sangat erat hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu aestetika, tak obahnya laksana hubungan antara paman dengan keponakannya di mana diatasnya bertemu pada satu nasab atau keturunan. Hanya saja kalau ilmu akhlak yang menjadi sasarannya dari segi segi perilaku ( suluk ) maka ilmu aetetika sasarannya dari segi  kelezatan yang obyeknya tetap sama taitu diri manusia.
Allah menyuruh manusia memperhatikan pergantian malam dengan siang dan sesuatu yang diciptakan Allah, baik yang dilangit dan dibumi. Hal ini merupakan sebab yang paling kuat pengaruh kedalam jiwa yang membawa manusia mudah ber-iman kepada Allah. Dengan mengamati
( taammul ) alam semesta yang begitu indah dan kuat serta sedemikian rupa teraturnya menjadi tanda bagi orang yang taqwa.
 Dalam surat Yunus ayat: 6, Allah berfirman: yang artinya:Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.

Dari keterangan-keterangan di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa sangat erat hubungan antara ilmu aestetika dengan ilmu akhlak. Orang kalau sudah terbiasa dengan keindahan, maka langkah berikutnya dia akan senag kepada akhlak yang terpuji.[5]

5.       Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu sosiologi ( ilmu ijtima’)

            Secara etimologi Sosiologi berasal dari kata “Socius” yang berarti kawan dan “logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang berkawan atau didalam arti luas, adalah ilmu pengetahuan yang berobyek hidup bermasyarakat. Memang banyak pengertian ( ta’rif ) tentang sosiologi tentang, antara lain yang dikemukakan oleh P.J. bouman, Samuel Smith dan Ch.      A.Ell wood,tekanannya kepada“masyarakat“,bukan kepada “hidup bermasyarakat”. Kita lebih tepat memakai pengertian yang memuat “hidup bermasyarakat”, karena masyarakat tidak mempunyai arti yang tepat. Ada masyarakat dalam arti luas, ialah kebulatan daripada semua perhubungan didalam hidup bermasyarakat. Sedangkan dalam arti sempit, ialah suatu kelompok manusia yang menjadi tempat hidup bermasyarakat, tidak dalam aspeknya, tetapi dalam berbagai-bagai aspek yang bentuknya tidak tertentu. Masyarakat dalam arti sempit ini tidak mempunyai arti yang tertentu, misalnya: masyarakat mahasiswa, masyarakat pedagang, masyarakat tani dan lain-lain.
 Dikatakan Ahmad Amin, bahwa pertalian antara Ilmu Sosiologi dengan Ilmu Akhlak erat sekali. Kalau Ilmu Akhlak yang dikaji tentang prilaku (suluk) ,artinya perbuatan dan tindakan manusia yang ditimbulkan oleh kehendak ,dimana tidak bisa terlepas kepada kajian kehidupan kemasyarakatan yang menjadi kajian Ilmu sosiologi. Hal yang demikian itu dikarenakan manusia tidak mungkin melepaskan diri sebagai makhluk bermasyarakat. Dimanapun seseorang itu hidup , ia tidak bisa memisahkan dirinya lingkungan masyarakat dimana dia berada walaupun kadar pengaruh itu relative sifatnya.
Memang manusia adalah makhluk bersyarikat dan bermasyarakat,saling membutuhkan diantaranya sesamanya. Hal ini jelas sekali bila kita perhatikan firman Allah surat Al-Hujurat ayat : 13 :
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

6.            Hubungan antara akhlak dengan aqidah dan Iman

Sesungguhnya antara akhlak dengan aqidah dan iman terdapat hubungan yang sangat kuat sekali ,karena akhlak yang baik itu sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai nukti atas lemahnya iman. Semakin sempurna akhlak seseorang muslim berarti semakin kuat imannya. Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shaleh yang menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh nabi SAW dan akhlak yang baik adalah satu penyebab masuk jannahnya seseorang.
Akhlak yang baik dalam muamalah dengan Allah mencakup 3 perkara :
1.      Membenarkan berita-berita dari Allah
2.      Melaksanakan hukum-hukum-Nya
3.      Sabar dan ridha kepada takdirnya.   

9. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Hukum

Pokok pembicaraan kedua hukum ini adalah perbuatan manusia, dan tujuan keduanya juga sama, yaitu mengatur perbuatan manusia untuk kebahagiaan mereka. Akan tetapi, cakupan ilmu akhlak lebih luas. Ilmu akhlak memerintahkan untuk melakukan apa yang bermanfaat dan meninggalkan apa yang mengandung mudharat, sedangkan ilmu hukum tidak. Ilmu hukum tidak memerintahkan apa yang baik untuk dilaksanakan, tidak juga melarang apa yang buruk untuk dilakukan.

10. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Agama

            Ilmu agama adalah ilmu yang mengatur tata cara keimanan, peribadatan, kepada Allah SWT dan kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia kepada Allah, manusia kepada manusia, dan manusia kepada lingkungannya. Tujuan dari ilmu agama adalah untuk menjadikan manusia bahagia di dunia dan akhirat, sedangkan cara untuk bisa menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat salah satunya adalah dengan akhlak yang baik yang juga selalu diajarkan dalam ilmu agama.

11. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Ekonomi

            Istilah ekonomi dalam bahasa Inggris disebut economic, sedangkan ekonomi sendiri berasal dari bahasa Yunani, Oikos dan Nomos yang berarti peraturan rumah tangga. menurut Alfred Marshall, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kehidupan sehari-hari bertindak dalam proses produksi, konsumsi, alokasi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia,
            Yang berhubungan dengan ilmu akhlak adalah sistem ekonomi Islam. ekonomi Islam adalah prinsip ekonomi yang berdasarkan syari’at islam yang bertujuan menciptakan kehidupan individu yang sehat dan kuat, sebagai individu atau anggota masyarakat. Dengan akhlak, maka tidak akan terjadi kecurangan dalam proses ekonomi. Semua perilaku ekonomi yang dilakukan akan berlangsung lancar karena semua yang dilakukan didasarkan atas nilai-nilai moral Dan budi pekerti yang mulia.
E. Pembentukan Akhlak
1.      Arti Pembentukan Akhlak
            Menurut sebagian ahli, bahwa akhlak itu perlu di bentukkarena akhlak adalah insting (gharizah) yang di bawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri yaitu kecenderungan kepada kebaikan atau fitra yang ada dalam diri manusia. Dan  dapat juga berupa kata hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenaran.
2.      Metode Pembentukan Akhlak

            Hubungan antara pembinaan akhlak dalam Islam dengan rukun Islam dan iman adalah di lakukan secara integrated,yaitu system yang menggunakan berbagai sarana peribatan dan lainnya secara simultanuntuk di arahkan untuk pembinaan akhlak. Cara lain yang di tempuh dalam pembinaan akhlak adalah pembiasaan yang di lakukan sejak kecil dan berlangsung secara berkesinambungan. Keteladanan juga merupakan metode yang sangat perlu di terapkan dalam rangka pembinaan akhlak. Selain itu, pembinaan akhlak dapat pula di tempuh dengan cara senantiasa menganggap diri ini sebagai yang banyak kekurangannya daripada kelebihannya. Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula di lakukan dengan memperhatikan factor kejiwaan sasaran yang akan di bina. 

3.      faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak

            Ada 3 aliran yang dapat di jadikan factor dasar yang mempengaruhi pembentukan akhlak, yaitu :

(1) nativisme
(2) empirisme dan
(3) konvergensi
    Menurut aliran nativisme,bahwa factor yang berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan,bakat,dan lainnya.
            Sedangkan empirisme, menyatakan bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor dari luar, yaitu lingkungan social,termasuk pembinaan dan pendidikan yang di berikan. Dalam pada itu, aliran konvergensi berpendapat bahwa pembentukan akhlak di pengaruhi oleh factor internal yaitu pembawaan si anak, dan factor dari luar yaitu pembinaan dan pendidikan yang di bentuk secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial.
          F. Manfaat Akhlak yang Mulia
   Ada beberapa hal yang menjadi kegunaan dari akhlak yang mulia,yaitu di antaranya :
1. memperkuat dan menyempurnakan agama
2. mempermudah perhitungan amal di akhirat
3. menghilangkan kesulitan
4. selamat di dunia maupun di akhirat



BAB IV
PENUTUP

1.      KESIMPULAN :
Bahwa pengertian akhlak :
Pertama perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanamkuat dalam jiwa seseorang,sehingga telah menjadi kepribadiannya
Kedua,perbuatan akhlak adalahperbuatan yang di lakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran
Ketiga,bahwa perbuatanaklhlak adalah perbuatan yang timbuldari dalam diri orangyang mengerjakannya,tanpa ada paksaan dan tekanan dari luar.

Keempat, bahwa perbuatan akhlakadalah perbuatan yang di lakukandengan sesungguhnya,bukan main-main atau bersandiwara

Kelima,sejalan dengan cirri yang keempatperbuatan akhlak adalahperbuatan yang di lakukan karena ikhlassemata-mata karena allah,bukan karena ingin di puji orang.

2.      SARAN :
            Sebagai seorang penulis kami berharap ada kritik dan saran dari hasil makalah yang saya buat. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membacanya. Walaupun makalah ini di buat dengan sederhana. Di dalam banyak mengandung perluasan makna dan arti. Dan jika banyak kesalahan kami mohon maaf .


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Amin. 1995. Etika ( ilmu akhlak ). Jakarta: Bulan Bintang.

Thaib, Ismail. 1984. Risalah Akhlak. Yogyakarta: Cv. Bina Usaha

Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an.Jakarta: Amzah.

muhammad Fauqi Hajjaj. 2011, Tasawuf Islam dan Ahklak : Jakarta
Thaib, Ismail. 1984. Risalah Akhlak. Yogyakarta: CV. Bina Usaha.



[1]Muhammad Fauqi Al-Jadid, tasawuf isalm dan Akhlak,(imprin bumi aksara, april 2011)hal:223
[2]Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an.Jakarta: Amzah.

[3]Thaib, Ismail. Risalah Akhlak. Yogyakarta1984.: CV. Bina Usaha.

[4]Ahmad, Amin.. Etika ( ilmu akhlak ). Jakarta1995: Bulan Bintang.

[5]Abdullah, Yatimin.. Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an.Jakarta2007: Amzah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar