Nama:khufyah Robe'nur
NPM : 13103244
STAIN JURAISIWO METRO
BAB II
PEMBAHASAN
1)
PENGERTIAN ILMU AKHLAK
At-tahawani (w.abad II H.), penyusun kasysyaf
ishthilahat al-Funun mendefinisikan ilmu akhlah yang di sebutnya dengan
ilmu-ilmu perilaku (ulum as-suluk )sebagai “pengetahuan tentang apa yang baik
dan tidak baik.[1]
Dua cara yang dapat digunakan untuk memahami ilmu akhlak yaitu: pendekatan
liguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologik (peristilahan)
Segi kebahasaan,akhlak
berasal dari bahasa arabyaitu aqlaka,yang berarti as-sajiyah (perangai) ath-thabi”ah
(kelakuan,watakdasar)al-adat (kebiasaan,kezalimanal-ma”ruah(peradaban yang
baik)dan al-din (agama). Kata akhlak jamak dari katakhuluq ataukhulukun.
Sedangkan untuk merujuk arti akhlak ini dapat di ambil
beberapa pendapat
para imam,sebagai berikut:
para imam,sebagai berikut:
“sifat yang tertanam dalam jiwayang mendorongnya untuk melakukanperbuatan
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
ImamGazhali berpendapat :
“sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam
perbuatandengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
Secara subtansi definisi akhlak tersebut
saling melengkapi sebagai berikut :
Pertama perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanamkuat dalam jiwa seseorang,sehingga
telah menjadi kepribadiannya. Kedua,perbuatan akhlak
adalah perbuatan yang di lakukan dengan
mudah dan tanpa pemikiran
Ketiga,bahwa perbuatanaklhlak adalah perbuatan yang timbuldari dalam diri orang yang
mengerjakannya,tanpa ada paksaan dan tekanan dari luar.
Keempat, bahwa perbuatan akhlakadalah perbuatan yang di lakukandengan sesungguhnya,bukan main-main atau
bersandiwara.
Kelima,sejalan dengan cirri yang
keempatperbuatan akhlak adalahperbuatan yang di
lakukan karena ikhlas semata-mata karena allah, bukan karena ingin di puji
orang.[2]
Dalam mu’jam al Wasith di sbutkan bahwa :
Artinya :“ilmu yang objek pembahasannya adalah
tentang nilai-nilai
yang berkaitan dengan perbuatan manusiayang dapat di sifatkan yang baik atau buruk”.
yang berkaitan dengan perbuatan manusiayang dapat di sifatkan yang baik atau buruk”.
B. Ruang lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
Pokok-pokok yang di bahas dalam ilmu akhlak adalah intinya perbuatan manusia.
Perbuatan tersebut di tentukan kriterianya apakah baik atau buruk
Manusia dibedakan tingkah lakunya dengan
hewan pada orientasi dibalik tingkah laku. Jika ada seekor kuda tertawa-jika
ringkikannya dianggap sebagai ketawa-maka tidak ada enilaian atas tingkah laku
kuda itu, mengapa tertawa dan kepada siapa tertawa itu di tunjukan. Atau seekor
kucing menerkam burung kesayangan tuannya yang baru di beli denganharga mahal,
maka tidak ada analisis terhadap tingkah laku kucing itu terhadap tuanya.
Ciri-ciri tingkah
lau manusia yang membedakannya dengan mahluk lainnya
1. Memiliki
kepekaan sosial. Artinya manusia mampu menyesuaikan tingkah lakunya dengan
harapan dan keinginan orang lain.
2. Memiliki
kelangsungan. Tingkah laku atau perbuatan seseorang tidak spontan tetapi ada
hubungan antara perbuatan satu dengan yang lainnya.
3. Memiliki
orientasi pada tugas. Tiap-tiap tingkah laku manusia selalu mengarah kepada
suatu tugas tertentu, bahkan seseorang dengan sengaja pergi tidur malam
ternyata memiliki orientasi kepada tugas yang akan di kerjakan kepada esok
harinya.
Ahmad Amin mengatakan :”bahwa objek
ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan
tersebut di tentukan baik atau buruk”. Muhammad Ghazhali mengatakan bahwa
kawasan pembahasan ilmuakhlak adalah
seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
A.
Ruang Lingkup Akhlak
dan Tasawwuf
1.
Ruang Lingkup Akhlak
Objek pembahasan ilmu akhlak
adalahperbuatan manusia untuk selanjutnya diberikan penilain apakan baik atau
buruk, dan mempunyai ciri-ciri perbuatan yang dilakukan atas kehendak dan
kemauan, telah dilakukan secara kontinyu sehingga menjadi tradisi dalam
kehidupannya.
Dr. Abdullah dalam buku Dustur
al-Akhlaq fi al-Islam, membagi ruang lingkup akhlaq kedalam lima macam aspek
kehidupan, yaitu:
a.
Akhlak perorangan الأخلا ق
الفرد ية
Akhlak ini
dibagi menjadi :
1)
Semua hal yang diperintahkan (al-awamir).
2)
Segala yang dilarang ( al-nawahi).
3)
Hal-hal yang diperbolehkan ( al-mubahat).
4)
Akhlak dalam keadaan darurat (al-mukhalafah bi
al-idhthirar).
b.
Akhlak keluarga الأخلا ق الأ
سرية
Akhlak ini
juga terbagi menjadi :
1)
Kewajiban timbal balik orang tua dan anak (wajibat
nahwa ushul wa al-furu).
2)
Kewajiban suami & isteri ( wajibat baina
al-azwaj).
3)
Kewajiban terhadap kerabat dekat (wajibat nahwa
al-aqarib).
c.
Akhlak bermasyarakat الأخلا ق
الإجتماعية
Akhlak ini
meliputi :
a)
Hal-hal yang dilarang (al-makhdzurat).
b)
Hal-hal yang diperintahkan (al-awamir).
c)
Kaidah-kaidah adab (qawa’id al-adab).
d) Akhlak
bernegaraالأخلاق الد
و لة
Akhlak ini
meliputi :
1)
Hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-‘alaqah baina
al-rais wa al-sya’b).
2)
Hubungan luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
d.
Akhlak beragama الأخلا ق الد
ينية
Akhlak ini
meliputi kewajiban terhadap Allah swt.
Ruang lingkup di atas dipandang
sangat luas karena mencakup semua aspek kehidupan. Secara vertikal hubungan
dengan sang Haliq dan secara horizontal dengan sesama manusia.
Jika ruang lingkup akhlak tersebut
dipersempit tetapi memiliki cakupan yang menyeluruh maka akhlak tersebut dapat
dibagi menjadi :
a. Akhlak (tata
krama) kepada Allah swt.
b. Akhlak
kepada Rasul Allah saw.
c. Akhlak untuk
diri pribadi.
d. Akhlak dalam
keluarga.
e. Akhlak dalam
masyarakat.
f. Ahlak
bernegara.
2.
Ruang Lingkup Tasawwuf
Tasawuf adalah nama
lain dari “Mistisisme dalam islam”. Di kalangan orientalis barat dikenal dengan
sebutan “Sufisme”. Kata “Sufisme” merupakan istilah khusus mistisisme islam.
Sehingga kata “sufisme” tidak ada pada mistisisme agama-agama lain.
Tasawuf bertujuan untuk
memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud
mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat Tuhan.
Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan dialog antara ruh manusia
dengan Tuhan. Hal ini melalui cara bahwa manusia perlu mengasingkan diri.
Keberadaannya yang dekat dengan Tuhan akan berbentuk “Ijtihad” (bersatu) dengan
Tuhan. Demikian ini menjadi inti persoalan “Sofisme” baik pada agama islam
maupun di luarnya.
Dengan pemikiran di
atas, dapat dipahami bahwa “tasawuf/mistisisme islam” adalah suatu ilmu yang
mempelajari suatu cara, bagaimana seseorang dapat mudah berada di hadirat Allah
SWT (Tuhan). Maka gerakan “kejiwaan” penuh dirasakan guna memikirkan betul
suatu hakikat kontak hubung yang mampu menelaah informasi dari Tuhannya.
Tasawuf atau mistisisme
dalam islam beresensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk hidup
“kezuhudan” (menjauhi kemewahan duniawi). Tujuan tasawuf untuk bisa berhubungan
langsung dengan Tuhan. Dengan maksud ada perasaan benar-benar berada di hadirat
Tuhan. Para sufi beranggapan bahwa ibadah yang diselenggarakan dengan cara
formal belum dianggap memuaskan karena belum memenuhi kebutuhan spiritual kaum
sufi.
Dengan demikian, maka
tampaklah jelas bahwa ruang lingkup ilmu tasawuf itu adalah hal-hal yang
berkenaan dengan upaya-upaya/cara-cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang
bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus secara langsung dari Tuhan
C . Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak
Mustafa
Zahri, mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu adalah untuk membersihkan
kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehinggahati menjadi suci dan
bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima nur (cahaya)Tuhan.
Seseorang yang
mempelajari ilmu ini akan memiliki pengetahuan tentang kriteria perbuatan baik
dan buruk, dan selanjutnya ia akan banyak mengetahui perbuatan yang baik dan
perbuatan yang buruk.
Ilmua akhlak atau
akhlak yang mulia juga berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai
aktivitas kehidupan manusia disegala bidang. Seseorang yang memiliki IPTEK yang
maju disertai akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuaan yang Ia miliki itu
akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan hidup manusia. Sebaliknya,
orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi modern, memiliki pangkat,
harta, kekuasaan, namun tidak disertai dengan akhlak yang mulia, maka semuanya
itu akan disalah gunakan yang akibatnya akan menimbulkan bencana dimuka bumi.[3]
2)
ILMU AKHLAK DI LUAR AGAMA ISLAM
1. Akhlak Pada Masa Yunani
Dasar yang di gunakan para pemikir yunani dalam mengukur ilmu akhlak adalah
pemikiran filsafat tentang manusia atau pemikiran tentang manusia dan bersifat
filosofis yaitu filsafat yang bertumpu pada kajian secara mendalamterhadap
potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia atau bersifat antroposentris
dan mengesankan bahwa akhlak adalah sesuatu yang fitri, yangaka nada bersamaan
dengan adanya manusia dan hasil yang di dapatkan berdasar pada logika mumi.
Filosofis Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak
adalah Socrates (469-399SM).
Kemudian di ikuti oleh pengikutnya
adalahCynic dan Cyrenic. Kedua golongan tersebut sama-sama berbicara
tentangperbuatan baik,utama dan mulia.
Setelah Plato hadir Aristoteles (394-322SM). Aristoteles berpendapat bahwa “tujuan
akhir yang di kehendaki manusiadari apa yang di lakukannyaadalah bahagia atau
kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan
mempergunakan akal sebaik-baiknya.
2. Akhlak Pada Masa Romawi
Ajaran akhlak yang
terlahir saat ini (abad pertengahan) adalah ajaran akhlak yang di bangun dari
perpaduan antara ajaran Yunani dan Nasrani di antara mereka yang terkenal
adalah Abelard,Perancis (1079-1142) dan ThomasAquinas,Italy (1226-1274).
3)
Akhlak Pada Agama Islam
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik
pangkalnya pada tuhan dan akal. Agama islam pada intinya mengajak manusia agar
percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta,pemelihara,pemberi
rahmat,pelindung terhadap apa yang ada di di dunia ini. Selain itu,agama islam
juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang
menuntut umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Hukum-hukum islam yang
mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah,pokok-pokok akhlak dan
perbuatan yang baik.
Sangatlah jelas bahwa dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mengndung
pokok-pokok akidah keagamaan. Keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip dan tata
nilai perbuatan manusia. Mengenai pembinaan akhlak dapat di jelaskan pendapat
Ath-Thabatabi sebagai berikut:
Pertama,menurut petunjuk al-Quran dalam
hidupnya manusia hanya menuju kebahagiaan,ketenangan,dan pencapaian cita-cita.
Kedua,perbuatan-perbuatan yang di lakukan
manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hokum tertentu.
Ketiga,jalan hidup terbaikdan terkuat
manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah,bukan berdasarkan emosi dan
dorongan hawa nafsu.[4]
4)
Hubungan Ilmu Akhlaq dengan Ilmu-ilmu Lainnya
1.
Hubungan
antara ilmu akhlak dengan ilmu Tauhid
Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu
Tauhid dapai dilhat dari analis berikut ini diantaranya :
a. Dilihat dari
segi obyek pembahasannya yaitu menguraikan masalah Tuhan baik dari segi
zat,sifat dan perbuatannya, dengan demikian Ilmu Tauhid akan mengarahkan
perbuatan manusia menjadi ikhlas, dan keihlasan itu merupakan salah satu akhlak
mulia.
b. Dilihat dari fungsinya, ilmu Tauhid
menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup menghafal rukun
iman yang enam dengan dalil-dalilnya saja, tetapi yang terpenting adalah agar
orang yang bertauhid itu meniru dan menyontoh terhadap subyek yang terdapat
dalam rukun iman itu. Dengan demikian beriman kepada rukun iman yang enam itu
akan memberi pengaruh terhadap pembentukan akhlak mulia.
Jadi jelas bahwa ilmu tauhid sangat erat kaitannya dengan pembinaan akhlak yang
mulia. Dengan demikian dalam rangka pengembangan Ilmu akhlak, bahan-bahannya
dapat digali dari ajaran tauhid dan keimanan tersebut.
2.
Hubungan
antara ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf
Sebagaimana diketahui bahwa dalam
tasawuf masalah ibadah amat menonjol, karena bertasawuf itu pada hakikatnya
melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, haji, zikir, dann lain
sebagianya, yang semuanya itu dilakukan dalam rangka mendekatkatkan diri kepada
Allah, ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat
hubungannya dengan akhlak.
Dalam hubungan ini Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, bahwa ibadah dalam
islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-qur’an
dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Tuhan dan
menjauhi larangan-Nya, yaitu orang yang berbuat baik dan jauh dari yang tidak
baik. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahimunkar,
mengajakan orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik.
Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak mulia. Harun Nasution
lebih lanjut mengatakan, kaum sufilah, terutama yang pelaksanaan ibadahnya
membawa kepada paembinaan akhlak mulia dalam diri mereka.
3.
Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu jiwa ( ilmu-nafs )
Ilmu jiwa suatu ilmu yang
menyelidiki bekas-bekas jiwa seseorang seperti: pengetahuan, perasaan dan
kemauannya, dan dalil bekas dan akibatnya mengambil faidah dari padanya.
Dengan lain perkataan, ilmu jiwa
sasarannya meneliti peranan yang dimainkan dalam perilaku manusia. Karenanya
dia meneliti tentang suara hati ( dhamir ), Kemauan ( iradah ), daya ingatan,
hafalan, dan pengertian, sangkaan yang ringan, ( waham ) dan
kecenderungan-kecenderungan( awathif ) manusia.
Itu semua menjadi lapangan kerja
jiwa, yang menggerakan manusia untuk berkata dan berbuat. Oleh karena itu ilmu
jiwa merupakan muqaddimah yang pokok sebelum mengadakan kajian ilmu akhlak.
Dikatakan oleh Prof. ahmad Luthfi”, tanpa dibantu oleh jiwa, orang tidak akan
dapat menjabarkan dengan baik tugas ilmu akhlaq”.
4.
Hubungan ilmu Akhlak dengan logika ( ilmu manthiq )
Ilmu manthiq ( logic ) aadalah
pengetahuan yang menggariskan qaidah-qaidah dan umdang-undang berpikir,
sehingga terpelihara manusia dalam berfikir. Jelasnya ilmu manthiq itu untuk
membersikan jiwa dan memperhalusnya supaya dapat berfikir secara baik, mendidik
pikiran dan menjaganya agar terhindar dari kekeliruan dalam membuat suatu hukum
yang didasarkan kepada pikiran.
Kalau dipandang ilmu manthiq sebagai
alat penimbang mengotrol dan neneriksa sesuatu yang berasal dari pikiran, maka
dia kuat sekali ikatannya dengan ilmu akhlak dari dua segi:
A.
Ilmu manthik
dan ilmu akhlak, masing-masing bertugas sebagai penimbang sesuatu.
Kalau ilmu akhlak merumuskan aturan-aturan di mana manusia harus berprilaku
sesuai dengan aturan itu, maka ilmu manthiq merumuskan aturan-aturan dimana
manusia harus berpikir sesuai dengan aturan yang telah dirumuskan itu.
B.
Ilmu manthiq
dan ilmu akhlak keduanya membahas dan meneliti manusia dari segi yang bersifat
kejiwaan, dengan catatan, ilmu akhlak menyorot manusia dari segi tingkah lakunya
sedang ilmu manthiq menyorot dari segi hasil pikirannya.
Oleh karena itu ilmu manthiq sebagai
kunci untuk mengerti filsafat, dalam pengertian, orang yang tidak memahami ilmu
manthiq tidak akan bisa memahami filsafat. Ilmu akhlak disebut juga dengan
filsafat akhlak, maka orang tidak akan mengerti filsafat akhlak bila tidak
mengerti manthiq. Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa terarah dan baik
atau tidak sesuai prilaku sangat tergantung dan dipengaruhi kepada baik
tidaknya dalam berfikir.
4. Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu aestetika ( ilmu
jamal )
Ilmu Aestetika, adalah ilmu
pengetahuan yang membahas tentang manusia dari aspek kelazatan-kelazatan yang
ditimbulkan oleh sesuatu pemandangan yang indah dalam diri manusia
Kebanyakan ahli ilmu mengatakan,
sangat erat hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu aestetika, tak obahnya
laksana hubungan antara paman dengan keponakannya di mana diatasnya bertemu
pada satu nasab atau keturunan. Hanya saja kalau ilmu akhlak yang menjadi
sasarannya dari segi segi perilaku ( suluk ) maka ilmu aetetika sasarannya dari
segi kelezatan yang obyeknya tetap sama taitu diri manusia.
Allah menyuruh manusia memperhatikan
pergantian malam dengan siang dan sesuatu yang diciptakan Allah, baik yang
dilangit dan dibumi. Hal ini merupakan sebab yang paling kuat pengaruh kedalam
jiwa yang membawa manusia mudah ber-iman kepada Allah. Dengan mengamati
( taammul ) alam semesta yang begitu indah dan kuat
serta sedemikian rupa teraturnya menjadi tanda bagi orang yang taqwa.
Dalam surat Yunus ayat: 6, Allah berfirman: yang
artinya:Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi,
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang
bertakwa.
Dari keterangan-keterangan di atas,
maka dapat disimpulkan, bahwa sangat erat hubungan antara ilmu aestetika dengan
ilmu akhlak. Orang kalau sudah terbiasa dengan keindahan, maka langkah
berikutnya dia akan senag kepada akhlak yang terpuji.[5]
5. Hubungan ilmu
Akhlak dengan ilmu sosiologi ( ilmu ijtima’)
Secara etimologi Sosiologi berasal dari kata “Socius” yang berarti kawan
dan “logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi sosiologi adalah ilmu
pengetahuan tentang berkawan atau didalam arti luas, adalah ilmu pengetahuan
yang berobyek hidup bermasyarakat. Memang banyak pengertian ( ta’rif ) tentang
sosiologi tentang, antara lain yang dikemukakan oleh P.J. bouman, Samuel Smith
dan Ch. A.Ell wood,tekanannya
kepada“masyarakat“,bukan kepada “hidup bermasyarakat”. Kita lebih tepat memakai
pengertian yang memuat “hidup bermasyarakat”, karena masyarakat tidak
mempunyai arti yang tepat. Ada masyarakat dalam arti luas, ialah kebulatan
daripada semua perhubungan didalam hidup bermasyarakat. Sedangkan dalam arti
sempit, ialah suatu kelompok manusia yang menjadi tempat hidup bermasyarakat,
tidak dalam aspeknya, tetapi dalam berbagai-bagai aspek yang bentuknya tidak
tertentu. Masyarakat dalam arti sempit ini tidak mempunyai arti yang tertentu,
misalnya: masyarakat mahasiswa, masyarakat pedagang, masyarakat tani dan
lain-lain.
Dikatakan Ahmad Amin, bahwa
pertalian antara Ilmu Sosiologi dengan Ilmu Akhlak erat sekali. Kalau Ilmu
Akhlak yang dikaji tentang prilaku (suluk) ,artinya perbuatan dan tindakan
manusia yang ditimbulkan oleh kehendak ,dimana tidak bisa terlepas kepada
kajian kehidupan kemasyarakatan yang menjadi kajian Ilmu sosiologi. Hal yang
demikian itu dikarenakan manusia tidak mungkin melepaskan diri sebagai makhluk
bermasyarakat. Dimanapun seseorang itu hidup , ia tidak bisa memisahkan dirinya
lingkungan masyarakat dimana dia berada walaupun kadar pengaruh itu relative
sifatnya.
Memang manusia adalah makhluk
bersyarikat dan bermasyarakat,saling membutuhkan diantaranya sesamanya. Hal ini
jelas sekali bila kita perhatikan firman Allah surat Al-Hujurat ayat : 13 :
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.
6.
Hubungan antara akhlak dengan aqidah dan Iman
Sesungguhnya antara akhlak dengan
aqidah dan iman terdapat hubungan yang sangat kuat sekali ,karena akhlak yang
baik itu sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai nukti atas
lemahnya iman. Semakin sempurna akhlak seseorang muslim berarti semakin kuat
imannya. Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shaleh yang menambah keimanan
dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh
nabi SAW dan akhlak yang baik adalah satu penyebab masuk jannahnya seseorang.
Akhlak yang baik dalam muamalah
dengan Allah mencakup 3 perkara :
1. Membenarkan
berita-berita dari Allah
2. Melaksanakan
hukum-hukum-Nya
3. Sabar dan ridha
kepada takdirnya.
9. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan
Ilmu Hukum
Pokok pembicaraan
kedua hukum ini adalah perbuatan manusia, dan tujuan keduanya juga sama, yaitu
mengatur perbuatan manusia untuk kebahagiaan mereka. Akan tetapi, cakupan ilmu
akhlak lebih luas. Ilmu akhlak memerintahkan untuk melakukan apa yang
bermanfaat dan meninggalkan apa yang mengandung mudharat, sedangkan ilmu hukum
tidak. Ilmu hukum tidak memerintahkan apa yang baik untuk dilaksanakan, tidak
juga melarang apa yang buruk untuk dilakukan.
10. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan
Ilmu Agama
Ilmu agama adalah ilmu yang mengatur tata cara keimanan, peribadatan, kepada
Allah SWT dan kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia kepada Allah,
manusia kepada manusia, dan manusia kepada lingkungannya. Tujuan dari ilmu
agama adalah untuk menjadikan manusia bahagia di dunia dan akhirat, sedangkan
cara untuk bisa menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat salah satunya
adalah dengan akhlak yang baik yang juga selalu diajarkan dalam ilmu agama.
11. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Ekonomi
Istilah ekonomi dalam bahasa Inggris disebut economic, sedangkan ekonomi sendiri berasal dari bahasa Yunani, Oikos dan Nomos yang berarti peraturan rumah tangga. menurut Alfred Marshall, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kehidupan sehari-hari bertindak dalam proses produksi, konsumsi, alokasi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia,
Yang berhubungan dengan ilmu akhlak adalah sistem ekonomi Islam. ekonomi Islam adalah prinsip ekonomi yang berdasarkan syari’at islam yang bertujuan menciptakan kehidupan individu yang sehat dan kuat, sebagai individu atau anggota masyarakat. Dengan akhlak, maka tidak akan terjadi kecurangan dalam proses ekonomi. Semua perilaku ekonomi yang dilakukan akan berlangsung lancar karena semua yang dilakukan didasarkan atas nilai-nilai moral Dan budi pekerti yang mulia.
E.
Pembentukan Akhlak
1.
Arti Pembentukan Akhlak
Menurut sebagian ahli, bahwa akhlak itu perlu di bentukkarena akhlak adalah
insting (gharizah) yang di bawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa
masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri yaitu kecenderungan kepada
kebaikan atau fitra yang ada dalam diri manusia. Dan dapat juga berupa
kata hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenaran.
2.
Metode Pembentukan Akhlak
Hubungan antara pembinaan akhlak dalam Islam dengan rukun Islam dan iman adalah
di lakukan secara integrated,yaitu system yang menggunakan berbagai sarana
peribatan dan lainnya secara simultanuntuk di arahkan untuk pembinaan akhlak.
Cara lain yang di tempuh dalam pembinaan akhlak adalah pembiasaan yang di
lakukan sejak kecil dan berlangsung secara berkesinambungan. Keteladanan juga
merupakan metode yang sangat perlu di terapkan dalam rangka pembinaan akhlak.
Selain itu, pembinaan akhlak dapat pula di tempuh dengan cara senantiasa
menganggap diri ini sebagai yang banyak kekurangannya daripada kelebihannya.
Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula di lakukan dengan memperhatikan
factor kejiwaan sasaran yang akan di bina.
3.
faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak
Ada 3 aliran yang dapat di jadikan factor dasar yang mempengaruhi pembentukan
akhlak, yaitu :
(1) nativisme
(2) empirisme dan
(3) konvergensi
Menurut aliran nativisme,bahwa
factor yang berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor
pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan,bakat,dan
lainnya.
Sedangkan empirisme, menyatakan bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap
pembentukan diri seseorang adalah factor dari luar, yaitu lingkungan
social,termasuk pembinaan dan pendidikan yang di berikan. Dalam pada itu,
aliran konvergensi berpendapat bahwa pembentukan akhlak di pengaruhi oleh
factor internal yaitu pembawaan si anak, dan factor dari luar yaitu pembinaan
dan pendidikan yang di bentuk secara khusus, atau melalui interaksi dalam
lingkungan sosial.
F.
Manfaat Akhlak yang Mulia
Ada beberapa hal yang
menjadi kegunaan dari akhlak yang mulia,yaitu di antaranya :
1. memperkuat dan menyempurnakan agama
2. mempermudah perhitungan amal di akhirat
3. menghilangkan kesulitan
4. selamat di dunia maupun di akhirat
BAB IV
PENUTUP
1.
KESIMPULAN :
Bahwa pengertian akhlak :
Pertama perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanamkuat dalam jiwa seseorang,sehingga
telah menjadi kepribadiannya
Kedua,perbuatan akhlak adalahperbuatan yang di lakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran
Ketiga,bahwa perbuatanaklhlak adalah perbuatan yang timbuldari dalam diri orangyang
mengerjakannya,tanpa ada paksaan dan tekanan dari luar.
Keempat, bahwa perbuatan akhlakadalah perbuatan yang di lakukandengan sesungguhnya,bukan main-main atau
bersandiwara
Kelima,sejalan dengan cirri yang
keempatperbuatan akhlak adalahperbuatan yang di
lakukan karena ikhlassemata-mata karena allah,bukan karena ingin di puji orang.
2.
SARAN :
Sebagai seorang penulis kami berharap ada kritik dan saran dari hasil makalah
yang saya buat. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membacanya. Walaupun makalah
ini di buat dengan sederhana. Di dalam banyak mengandung perluasan makna dan
arti. Dan jika banyak kesalahan kami mohon maaf .
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Amin.
1995. Etika ( ilmu akhlak ). Jakarta: Bulan Bintang.
Thaib,
Ismail. 1984. Risalah Akhlak. Yogyakarta: Cv. Bina Usaha
Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak
dalam Perspektif Al Qur’an.Jakarta: Amzah.
muhammad Fauqi Hajjaj. 2011, Tasawuf Islam dan Ahklak : Jakarta
muhammad Fauqi Hajjaj. 2011, Tasawuf Islam dan Ahklak : Jakarta
Thaib, Ismail. 1984. Risalah Akhlak.
Yogyakarta: CV. Bina Usaha.
[1]Muhammad Fauqi Al-Jadid, tasawuf isalm dan
Akhlak,(imprin bumi aksara, april 2011)hal:223
[2]Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an.Jakarta:
Amzah.
[3]Thaib, Ismail. Risalah Akhlak.
Yogyakarta1984.: CV. Bina Usaha.
[4]Ahmad,
Amin.. Etika ( ilmu akhlak ). Jakarta1995: Bulan Bintang.
[5]Abdullah, Yatimin.. Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an.Jakarta2007:
Amzah.